BENGKALIS, 7 Oktober 2026 — Penguatan kewirausahaan di daerah tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan pelaku usaha untuk menghasilkan produk. Diperlukan ekosistem yang mempertemukan pelaku UMKM, lembaga keuangan, BUMDes, dan perguruan tinggi agar usaha masyarakat mampu tumbuh, berkembang, serta memiliki daya saing yang lebih kuat.
Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam kegiatan Temu Ramah Entrepreneurship yang mempertemukan pelaku UMKM, BUMDes, perbankan, dan perguruan tinggi di Kabupaten Bengkalis. Kegiatan bertajuk “Membangun Sinergi untuk Penguatan Pembelajaran PBL dan Tefa ACC” tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi D4 Akuntansi Keuangan Publik angkatan 2024 bersama Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng), Rabu (7/10/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan mata kuliah Kewirausahaan di bawah bimbingan dosen pengampu Husni Mubarak, M.Acc., S.EI. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman kewirausahaan dari sisi teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam merancang dan melaksanakan kegiatan yang melibatkan dunia usaha, perbankan, dan lembaga pendidikan.

Pesan tentang pentingnya keberanian memulai usaha disampaikan Meli Ulfa, S.E., pemilik Warung Roti AK, salah satu narasumber dalam mini conference.
Meli menceritakan bagaimana Warung Roti AK yang berdiri pada 14 November 2020 bermula dari sesuatu yang sederhana. Ketika itu, ia ingin mencicipi brownies Amanda yang belum tersedia di Bengkalis.
Rasa penasaran tersebut justru menjadi titik awal lahirnya sebuah usaha. Meli kemudian mencoba mengembangkan bisnis brownies karakter. Seiring waktu, usahanya berkembang dan merambah produk donat serta roti.
Kisah Meli menunjukkan bahwa peluang usaha dapat muncul dari kebutuhan yang sederhana. Yang membedakan adalah keberanian seseorang untuk mengubah kebutuhan tersebut menjadi ide, kemudian mengubah ide menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Bank Tak Sekadar Memberikan Modal
Perspektif berbeda disampaikan Zubir Efendi, S.Sos., praktisi perbankan BSI. Menurut perspektif yang dibahas dalam kegiatan tersebut, pengembangan UMKM tidak hanya membutuhkan produk yang baik, tetapi juga dukungan pembiayaan dan pendampingan.
Perbankan memiliki posisi strategis dalam membantu UMKM tumbuh dan naik kelas. Karena itu, hubungan antara bank dan pelaku usaha idealnya tidak berhenti pada transaksi pembiayaan.
Perbankan dapat menjadi mitra strategis bagi pelaku UMKM dalam perjalanan mengembangkan usaha. Dukungan pembiayaan dan pendampingan menjadi bagian penting agar UMKM mampu berkembang dan menghadapi persaingan secara lebih berkelanjutan.
Kampus Turun Tangan, Mahasiswa Belajar dari Dunia Nyata
Sementara itu, Larbiel Hadi, S.Sos., M.Si., dari Bidibeng Store Polbeng, menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam ekosistem kewirausahaan.
Melalui Bidibeng Store, kampus tidak hanya menjadi tempat mahasiswa memperoleh teori, tetapi juga menjadi wadah praktik kewirausahaan dan sarana pengabdian kepada masyarakat.
Mahasiswa didorong untuk terjun langsung membantu memahami dan mengatasi persoalan yang dihadapi UMKM. Model tersebut sejalan dengan pendekatan Project Based Learning (PBL) dan Teaching Factory (Tefa), yang memberikan pengalaman pembelajaran melalui persoalan nyata di dunia usaha.
Bagi mahasiswa, pola pembelajaran ini memberikan pengalaman yang berbeda. Mereka tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga belajar berkomunikasi dengan pelaku usaha, memahami kebutuhan dunia bisnis, membangun jejaring, dan mencari solusi atas persoalan nyata.
Membangun Ekosistem, Bukan Berjalan Sendiri
Temu Ramah Entrepreneurship tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan kerja bersama.
Ada pelaku usaha yang menjadi motor inovasi, perbankan yang mendukung pembiayaan dan pendampingan, serta perguruan tinggi yang menghadirkan ilmu, tenaga, dan solusi. Keterlibatan BUMDes semakin memperluas ruang kolaborasi dalam membangun ekonomi masyarakat.
Dengan sinergi tersebut, pembelajaran di perguruan tinggi diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan dunia usaha. Sebaliknya, UMKM memperoleh kesempatan mendapatkan dukungan pengetahuan dan sumber daya dari kampus.
Lebih dari sekadar kegiatan mahasiswa, Temu Ramah Entrepreneurship menjadi gambaran bagaimana ekosistem kewirausahaan dapat dibangun melalui kemitraan.
Dari sebuah rasa penasaran lahir sebuah usaha. Dari perbankan hadir dukungan pembiayaan. Dari perguruan tinggi hadir pengetahuan dan generasi muda. Ketika ketiganya bertemu dalam satu ekosistem, kewirausahaan tidak lagi sekadar aktivitas individu, tetapi menjadi gerakan kolaboratif untuk mendorong UMKM tumbuh dan berkembang.
Bagi Kabupaten Bengkalis, sinergi antara UMKM, BUMDes, perbankan, dan Politeknik Negeri Bengkalis dapat menjadi langkah awal membangun ekosistem kewirausahaan yang saling menguatkan—tempat mahasiswa belajar dari dunia nyata, pelaku usaha memperoleh mitra pengembangan, dan perguruan tinggi semakin hadir menjawab kebutuhan masyarakat. (P3M)
